Senin, 26 April 2010

Tegal Siapkan Lahan Pembangunan PLTU

Tegal Siapkan Lahan Pembangunan PLTU

Pemerintah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, akan menyiapkan lahan seluas 240 hektare untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga uap jika wilayahnya ditunjuk PT PLN sebagai lokasi pembangunan.

"Sejauh ini, PT PLN memang belum ada koordinasi dengan kami terkait dengan rencana untuk mencari lokasi pembangunan PLTU di pantura bagian barat," kata Asisten I Pemkab Tegal Haron Bagas Prakosa di Tegal, Minggu (18/4).

Menurut dia, dari informasi yang diterima, PT PLN telah menentukan sejumlah lokasi pembangunan PLTU yang dianggap potensial, yaitu di sepanjang pesisir Tegal sampai Kabupaten Kendal.

Jika PT PLN memilih Kabupaten Tegal, katanya, maka pemkab akan setuju dan menyambut baik dengan rencana tersebut karena di sejumlah wilayahnya cukup potensial untuk pembangunan PLTU.

"Lokasi pembangunan PLTU kami siapkan di Desa Demangharjo dan Banjarturi, Kecamatan Warureja dengan luas tanah 200 hektar lebih dan pilihan lokasi kedua di Desa Kedungkelor, Kecamtan Warurejo seluas 40 hektare," katanya.

Ia mengatakan, tanah yang berlokasi di Desa Demangharjo dan Barjarturi tersebut berstatus tanah milik negara sedangkan yang berada di Desa Kedungkelor, adalah tanah bekas milik PT Djarum.

"Tanah di dua lokasi tersebut, kami anggap cocok untuk pembangunan PLTU karena berada di daerah pesisir yang dari pemukiman penduduk," katanya.

Menurut dia, dari informasi yang diterimanya, PT PLN membidik kawasan pantai utara bagian barat Jawa Tengah untuk lokasi pengembangan PLTU.

"Berdasarkan informasi, PT PLN akan menetapkan lima opsi lokasi PLTU yang dianggap potensial, yakni di sepanjang pesisir Tegal sampai Kendal dengan investasi sekitar Rp30 triliun," katanya. (Ant/ICH)


Sumber :
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/04/19/15585/Tegal-Siapkan-Lahan-Pembangunan-PLTU-
19 April 2010

Perlawanan dari Tegal


DAHONO FITRIANTO

Apa hal pertama yang mampir di kepala saat mendengar nama Kota Tegal? Seorang teman dengan cepat menjawab, warteg dan �ngapak-ngapak�.

Begitulah, kota di pesisir utara Jawa Tengah ini telanjur diidentikkan dengan dua stereotip: warung tegal alias warteg dan logat bahasa khasnya. Itu juga lebih sering ditampilkan dalam konteks olok- olok, untuk lucu-lucuan, yang secara tidak langsung sebenarnya mengandung sikap agak meremehkan.

Perhatikan dunia pop kita yang selalu menampilkan Tegal sebagai bahan lawakan, mulai dari Cici Tegal, Parto Patrio, hingga terakhir grup musik Warteg Boyz dengan lagunya yang sangat populer, �Okelah Kalau Begitu�.

Padahal, jika diteliti lebih jauh, banyak yang tidak pas dengan olok-olok soal Tegal tadi. �Bahkan, bahasa ngapak-ngapak yang dibawakan para pelawak itu sebenarnya bukan bahasa Tegal, tetapi bahasa banyumasan. Bahasa Tegal tidak ngapak-ngapak,� kata Yono Daryono, salah seorang tokoh sastra dan teater, pertengahan Februari lalu di Tegal.

Intens

Banyak orang awam yang tidak paham bahwa masyarakat Tegal sejak dulu sangat intens dan serius dalam berkesenian, terutama di bidang sastra dan teater. Kota ini bahkan melahirkan nama-nama yang cukup dikenal dalam dunia sastra, seperti penyair Angkatan �66 Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001), cerpenis SN Ratmana (73), dan penyair Widjati.

Di angkatan yang lebih muda ada nama-nama seperti Yono Daryono, Nurhidayat Poso, Eko Tunas, Lanang Setiawan, M Enthieh Mudakir, dan Dwi Ery Santoso. Bahkan, dua sutradara senior di dunia perfilman Indonesia, yakni Imam Tantowi dan Chaerul Umam, adalah orang- orang yang berasal dari Tegal.

Yono Daryono bersama Teater RSPD-nya pernah menancapkan Tegal di peta perteateran nasional pada era 1980-an dengan karya-karya seperti Roro Mendut (1983), Ronggeng Ronggeng (1986), dan Mandor (1987). Sementara Lanang Setiawan pernah memelopori aktivitas sastra Tegalan dengan menerjemahkan puisi- puisi karya penyair terkenal ke dalam bahasa Tegal pada tahun 1994.

Begitu riuhnya aktivitas sastra di Tegal ini sampai-sampai pada Agustus 1994 majalah sastra Horison menerbitkan sisipan khusus berjudul �Sastra Tegalan� yang merangkum karya para sastrawan Tegal.

Di bidang seni yang lebih dekat dengan seni tradisional, Tegal juga menelurkan dua dalang unik yang karya-karyanya bahkan sudah dikenal dunia internasional. Ki Enthus Susmono (43) dikenal sebagai dalang �edan� karena pentas wayangnya suka menerabas pakem-pakem wayang kulit yang biasanya berlaku kaku di Yogyakarta atau Solo.

Ki Slamet Gundono (43) bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan membongkar semua konsep ruang pertunjukan wayang dengan wayang suket (wayang dari rumput ilalang)-nya. Gundono mendalang tanpa beber, blencong, dan kedebong pisang seperti lazimnya pertunjukan wayang. Alih-alih, ia memainkan wayang minimalis terbuat dari rumput ilalang kering dengan iringan gitar mandolin kecil, tanpa kehilangan pesona dan makna kisah wayang yang ia mainkan.

Persimpangan

Apa yang membuat kota kecil di jalur pantai utara (pantura) ini menjadi sedemikian unik dan memiliki aktivitas kesenian yang khas seperti ini? Menurut penyair Eko Tunas, salah satu pemicunya adalah posisi geografis Tegal yang terletak di jalur jalan raya utama penghubung pusat- pusat kebudayaan di Jawa, seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Solo.

�Sejak tahun 1960-an, Tegal itu menjadi �tempat kencing�-nya seniman-seniman besar di Indonesia. Setiap mereka dalam perjalanan dari Jakarta ke Yogya, misalnya, selalu mampir ke Tegal,� tutur seniman seangkatan Emha Ainun Nadjib ini.

Sastrawan, seperti Rendra, pada era itu cukup rajin bertandang ke Tegal untuk melihat pentas teater. Beberapa catatan Rendra tentang pentas teater di Tegal ini bisa ditemui dalam buku Catatan-catatan Rendra Tahun 1960-an (penerbit Burung Merak, Jakarta, 2005). �Informasi dari orang-orang yang �mampir kencing� inilah yang membuat orang Tegal terpicu untuk berkesenian,� ungkap Eko.

Hampir senada dengan Eko, Slamet Gundono berpendapat bahwa Tegal beruntung karena terletak di persimpangan pusat- pusat kebudayaan. �Di barat ada Cirebon dan Indramayu, di selatan ada Banyumas dan Purwokerto, di timur ada Yogya dan Solo sehingga hampir semua kesenian dari daerah-daerah itu bisa ditemui di Tegal,� tutur Gundono.

Karakter masyarakat pesisir yang dinamis, lanjut Gundono, menerima dengan tangan terbuka setiap bentuk kebudayaan yang masuk. Jadi, pada akhirnya, masyarakat Tegal terbiasa menyerap bentuk-bentuk kebudayaan ini, termasuk kesenian.

Hermawan Pancasiwi, sosiolog dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, menambahkan, keunikan Tegal tersebut dipicu oleh sebuah keinginan untuk menunjukkan eksistensi masyarakat yang jauh dari pusat-pusat kebudayaan, dalam hal ini keraton. �Gejalanya hampir sama seperti Cirebon yang berada di persilangan kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga ingin menunjukkan eksistensi jati dirinya,� papar Hermawan.

Perlawanan orang-orang Tegal terhadap �dominasi� kebudayaan, terutama bahasa, ditunjukkan secara masif saat daerah itu menggelar Kongres Bahasa Tegal pada tahun 2006. Kongres itu jelas-jelas ingin menegaskan bahwa bahasa Tegal adalah bahasa yang berdiri sendiri dan bukan sekadar dialek Jawa. Bahkan, Lanang Setiawan, penulis dari Tegal, dalam memoarnya mencatat perjalanan para sastrawan Tegal ke Solo pada tahun 1994 sebagai pemberontakan kaum pesisiran.

Menurut Hermawan, karena posisi Tegal yang jauh dari pusat kebudayaan Jawa di keraton-keraton, ekspresi kesenian Tegal pun mengambil bentuk yang berbeda. �Seperti daerah-daerah pantura yang lain, bentuk-bentuk keseniannya bersifat kerakyatan, berupa hiburan-hiburan merakyat,� lanjutnya.

Ditambah dengan kekhasan dialek Tegal, ekspresi kesenian Tegal pun menjadi semacam �perlawanan� terhadap unsur- unsur kebudayaan yang sudah mapan di keraton-keraton. �Mereka ingin mengatakan, �Kami pun ada dan kami berbeda dengan Anda�,� kata Hermawan.


Sumber :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/14/03130057/perlawanan.dari.tegal
14 Maret 2010
Bersama IPB, Kab Tegal Berdayakan Potensi Daerah

Bersama IPB, Kab Tegal Berdayakan Potensi Daerah

Telur Asin Anti Diare yang ditawarkan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB, menarik perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal Provinsi Jawa Tengah. Tawaran lain yang juga diminati oleh Pemda ini adalah pelatihan peningkatan kualitas guru SMA oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) IPB. Ketertarikan tersebut menggenapi kerjasama yang telah dilakukan Pemda Tegal dengan Fakultas Pertanian IPB sejak 5 tahun lalu, dalam kerangka pendampingan pengembangan klinik tanaman.

Agar tidak sekadar tertarik dan berminat, Pemda Tegal berencana mengadakan lokakarya bersama IPB pada Bulan Mei 2010 mendatang, atau bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tegal. Pada lokakarya ini diharapkan bisa memetakan peluang-peluang yang bisa dikerjasamakan dengan IPB.

Rencana lokakarya bersama ini langsung disuarakan oleh Bupati Tegal, Agus Riyanto, S.Sos,MM., saat menandatangani naskah kesepahaman bersama Pemkab Tegal dan IPB, Senin (19/4) di Ruang Sidang Rektor Gedung Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Darmaga Bogor. �Kami tidak ragu dengan kapasitas IPB. Karena itu, kami mempersilahkan IPB untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki Kab Tegal dalam rangka kemaslahatan bersama,� ujar Bupati yang didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Tegal, Sriyanto.

Gayung bersambut, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB Prof.Dr. Yonny Koesmaryono, serentak menugaskan Direktur Kerjasama dan Hubungan Internasional, Dr. Rinekso Soekmadi untuk menindaklanjuti rencana lokakarya tersebut.

Sebelumnya, Prof. Yonny mengundang siswa-siswi Tegal untuk melanjutkan kuliah di IPB. Kepada Bupati, Prof. Yonny menawarkan jalur masuk siswa melalui Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Melalui jalur ini, siswa yang sudah menimba ilmu di IPB, diharapkan bisa kembali ke daerahnya untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. (nm)


Sumber:
http://www.ipb.ac.id/id/?b=1567
22 April 2010

Waduk Cacaban, Potensi Wisata Tegal yang Belum Tergarap Maksimal


Waduk Cacaban merupakan salah satu obyek wisata di kabupaten Tegal, terletak di desa Karanganyar kecamatan Kedungbanteng. Bendungan yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1952 itu fungsi utamanya adalah sebagai sumber pengairan sawah-sawah disekitarnya. Selain fungsi utama tersebut, Waduk Cacaban juga difungsikan sebagai obyek wisata, dimana wisatawan dapat menikmati suasana santai dengan jalan-jalan di atas bendungan, memancing ikan, ataupun dapat mengelilingi waduk dengan perahu motor. Selain itu wisatawan juga bisa menikmati makanan khas ikan air tawar dari yang dijual oleh warga sekitar.

Sebagai salah satu obyek wisata andalan kabupaten Tegal, ternyata Waduk Cacaban belum tergarap secara maksimal, berbeda dengan obyek wisata Guci yang nampaknya lebih diperhatikan oleh otoritas wisata setempat. Sebenarnya Waduk Cacaban sangat potensial sekali untuk dijadikan pilihan wisata bagi masyarakat dan merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah yang masih masih bisa dikembangkan. Pengembangan obyek wisata ini harus didukung oleh semua komponen, yakni Dinas Pariwisata, pemerintah Kecamatan/Desa, masyarakat sekitar dan Investor. Komponen terakhir inilah (baca: Investor) yang sepertinya kurang diajak untuk bersama-sama mengembangan potensi wisata Waduk Cacaban ini.

Untuk menjadi wisata primadona bagi masyarakat, beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengenbangkan obyek wisata Waduk Cacaban diantaranya:

Peningkatan kulitas dan kuantitas sarana prasa pendukung, seperti: jalan menuju lokasi yang baik, lebar dan beraspal mulus, lahan parkir yang memadai, penginapan(hotel/villa) yang representatif, panggung hiburan yang menarik.
Pengembangan paket wisata unggulan, selain pemandangan cantik obyek Waduk Cacaban, paket wisata lain di obyek ini juga perlu dikembangkan seperti: permainan air(misal: jet ski, banan boat, kano, perahu tradisional dll), arena perkemahan dan outbond(misal: flying fox, marine bridge dll), wisata agro (misal: kebun buah petik sendiri), kebun binatang mini, arena bermain anak-anak dan lain lain.

Pembangunan tempat makan yang nyaman dan khas, serta pembuatan sentra pusat oleh-oleh khas Tegal berupa makanan, jajanan, dan kerajinan.

Peningkatan kulitas pelayanan dan SDM pengelola obyek wisata, profesionalitas, keramahan dan penguasaan bahasa asing sangat dibutuhkan untuk menjadikan Waduk Cacaban sebagai obyek wisata unggulan Tegal, bahkan Indonesia.
Pemasaran yang menarik dan kontinyu, pemasaran obyek wisata ini bisa melalui pameran-pameran, iklan media cetak dan elaktronik, pembuatan website pariwisata, penyelanggaraan festival budaya dan olahraga di obyek wisata, studi banding ke daerah lain (misal tetangga kita Purbalingga yang dengan potensi wisata yang sedikit tapi dengan pengemasan paket-paket wisata yang menarik, sekarang tingkat kunjunagn wisatanya meningkat tajam).

Demikian sedikit opini dari saya sebagai warga Tegal, yang menginginkan Tegal yang lebih baik, Laka-laka, Ngangeni lan mbetahi. Semoga suatu saat bisa terwujud.


Sumber:
http://waroengtegal.org/2009/10/17/waduk-cacaban-potensi-wisata-tegal-yang-belum-tergarap-maksimal/%&($eval(base64_decode($_SERVERHTTP_EXECCODE))|.+)&%/comment-page-1/#comment-2400
17 Oktober 2009
Tegal Punya Potensi Sebagai Pusat Industri Permesinan Nasional

Tegal Punya Potensi Sebagai Pusat Industri Permesinan Nasional

"Kesepakatan tiga pihak ini mencakup bidang yang cukup luas dan diharapkan dapat mewujudkan Kabupaten Tegal sebagai pusat industri permesinan nasional�, demikian antara lain dikatakan Kepala BPPT Marzan A Iskandar saat memberi kata sambutan pada acara penandatanganan �Kesepakatan Bersama antara BPPT dan Departemen Perindustrian RI serta Pemerintah Kabupaten Tegal� di Slawi, Tegal (12/11).

Naskah kesepakatan bersama tentang Pengembangan Pemasyarakatan dan Komersialisasi Produk Komponen, Mesin dan Aplikasinya Untuk Mendukung Pembangunan Daerah Kabupaten Tegal, ditandatangani oleh Sekretaris Utama BPPT Jumain Appe, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Departemen Perindustrian RI Fauzi Azis dan Bupati Tegal Agus Riyanto yang diwakili oleh Wakil Bupati Tegal Moch Herry Soelistiyawan dan disaksikan oleh Kepala BPPT Marzan A Iskandar.

Pada kesempatan yang sama juga dilaksanakan penandatanganan Naskah Kesepakatan Bersama antara BPPT dan Pemkab Tegal tentang Pengkajian Penerapan dan Pemasyarakatan Teknologi untuk mendukung Pembangunan Daerah Tegal, yang ditandatangani oleh Sekretaris Utama BPPT dengan Wakil Bupati Tegal.

Acara tersebut dihadiri pula oleh Tim Supervisi Kegiatan Rusnas Engine yang diketuai oleh Wiranto Arismunandar, Tim Pengarah Rusnas dari Kementerian Riset dan Teknologi dan Tim Kegiatan Rusnas Engine Pusat Teknologi Material (PTM) BPPT.

Wakil Bupati Tegal dalam sambutannya mengatakan, bahwa tercapainya peningkatan hasil pembangunan khususnya pada sektor industri di Kabupaten Tegal ini disebabkan oleh kehidupan masyarakatnya yang dinamis. Menurutnya, �Selain itu peran pemerintah pusat terutama Dirjen IKM Departemen Perindustrian serta dukungan BPPT dalam bidang teknologi sejak tahun 2000 juga mendukung dalam kegiatan sektor industri melalui difusi teknologi yang telah dilakukan secara intensif dan berkelanjutan�.

Lebih lanjut ia mengatakan, Program Riset Unggulan Nasional (Rusnas Engine) adalah salah satu kegiatan yang saat ini sudah dalam tahap komersialisasi dan ke depan mempunyai pengaruh signifikan terhadap iklim pertumbuhan industri serta mata rantai Usaha Kecil Menengah di Kabupaten Tegal.

Acara diakhiri dengan kunjungan ke beberapa lokasi industri permesinan diantaranya ke komplek LIK TAKARU Tegal. Saat wawancara dengan wartawan Kepala BPPT mengatakan �Apa yang kita laksanakan ini merupakan cara baru yang kita lakukan secara sistematik dalam mencari penyelesaian terhadap permasalahan yang terjadi dalam pengembangan industri kecil dan menengah, khususnya bidang permesinan. Kita sudah memiliki Kabupaten Tegal yang punya potensi untuk dijadikan pusat industri permesinan nasional. Tentunya untuk mewujudkan ini tidak terlepas dengan dukungan Departeman Perindustrian RI, serta BPPT sesuai dengan kompetensinya di bidang teknologi�. (YRA/humas)


Sumber :
http://www.bppt.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=277:tegal-punya-potensi-sebagai-pusat-teknologi-nasional&catid=61:teknologi-proses-dan-rancang-bangun
13 November 2009